Narasina.com - Telur dikenal sebagai salah satu makanan bergizi yang kaya protein dan nutrisi penting. Namun, banyak orang masih bertanya-tanya mengenai batas aman konsumsi telur dalam seminggu, terutama terkait kolesterol dan kesehatan jantung.
Tidak sedikit orang yang mengonsumsi telur hampir setiap hari tanpa mengetahui jumlah yang dianjurkan untuk tubuh.
Telur Tidak Selalu Jadi Penyebab Kolesterol Tinggi
Mengutip laman Martha Stewart, pandangan tentang telur sebagai penyebab utama kolesterol tinggi kini mulai berubah seiring perkembangan penelitian.
Ahli gizi Lauren Manaker menjelaskan bahwa kolesterol dari makanan tidak selalu langsung meningkatkan kadar kolesterol darah.
Menurutnya, faktor yang lebih berpengaruh terhadap kolesterol darah justru berasal dari konsumsi lemak jenuh secara keseluruhan.
Sementara itu, ahli gizi olahraga Roxana Ehsani menyebut satu butir telur hanya mengandung sekitar 1,6 gram lemak jenuh. Jumlah tersebut masih jauh di bawah batas harian yang direkomendasikan, yaitu kurang dari 20 gram per hari.
Sebagian besar lemak dalam telur juga termasuk lemak tak jenuh yang dinilai lebih baik untuk kesehatan jantung.
Batas Aman Konsumsi Telur
Sejumlah penelitian menunjukkan konsumsi telur dalam jumlah moderat tidak berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung pada kebanyakan orang sehat.
Konsumsi satu butir telur per hari atau sekitar tujuh butir per minggu masih dianggap aman sebagai bagian dari pola makan sehat.
Mengutip Healthline, penelitian tahun 2025 bahkan menemukan bahwa konsumsi dua butir telur setiap hari dalam pola diet rendah lemak jenuh dapat membantu menurunkan kadar LDL atau kolesterol jahat.
Secara umum, konsumsi 7 hingga 14 butir telur per minggu masih dinilai aman bagi sebagian besar orang dewasa sehat. Jumlah tersebut setara dengan 1-2 butir telur per hari.
Kapan Konsumsi Telur Dianggap Berlebihan?
Konsumsi telur bisa dianggap berlebihan jika jumlahnya terlalu banyak dan tidak diimbangi pola makan sehat secara keseluruhan.
Orang dengan kondisi tertentu, seperti hiperkolesterolemia familial atau gangguan genetik yang menyebabkan kadar kolesterol sangat tinggi, mungkin perlu membatasi konsumsi telur lebih ketat.
Selain itu, makanan pendamping telur juga berpengaruh besar terhadap kesehatan jantung.
Telur yang dikonsumsi bersama sosis, bacon, daging olahan, atau keju tinggi lemak dapat meningkatkan asupan lemak jenuh yang kurang baik bagi tubuh.
Cara Mengolah Telur yang Lebih Sehat
Cara memasak telur juga memengaruhi kandungan lemak dalam makanan tersebut.
Menggoreng telur dengan banyak mentega atau minyak dapat meningkatkan asupan lemak jenuh. Sebaliknya, telur rebus, poached, atau telur dadar dengan sedikit minyak dinilai lebih sehat.
Para ahli juga menyarankan agar telur dipadukan dengan makanan bernutrisi lain seperti sayuran, roti gandum utuh, tomat, atau bayam agar kebutuhan serat dan vitamin tetap terpenuhi.
Baik untuk Lansia dan Massa Otot
Telur mengandung protein berkualitas tinggi yang membantu menjaga massa otot, terutama pada orang lanjut usia.
Selain itu, telur juga kaya vitamin B12 yang penting untuk fungsi saraf dan pembentukan sel darah merah.
Pada lansia, kemampuan tubuh menyerap vitamin B12 biasanya mulai menurun. Karena itu, telur bisa menjadi sumber nutrisi praktis yang bermanfaat untuk kesehatan.
Bagi kebanyakan orang sehat, konsumsi telur dalam jumlah wajar tetap aman dan bermanfaat. Kunci utamanya adalah menjaga pola makan tetap seimbang dan tidak berlebihan.
