Narasina.com - Nilai tukar rupiah kembali melemah pada perdagangan Kamis (21/5/2026). Mata uang Garuda ditutup di level Rp17.667 per dolar Amerika Serikat (AS), turun 13 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.653 per dolar AS.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi oleh berbagai sentimen global. Di antaranya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta sikap hati-hati bank sentral AS terhadap inflasi.
"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 13 poin sebelumnya sempat melemah 30 point di level Rp 17.667 dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.653," kata Ibrahim, Kamis (21/5/2026).
Menurut Ibrahim, kondisi global yang tidak pasti membuat investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang lebih aman seperti dolar AS. Hal ini turut menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Penguatan dolar AS tidak hanya berdampak pada pasar keuangan, tetapi juga dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat. Efeknya bisa merambat ke harga barang, biaya hidup, hingga daya beli.
Karena banyak kebutuhan di Indonesia masih bergantung pada impor atau bahan baku berbasis dolar, penguatan mata uang AS bisa memicu kenaikan biaya di berbagai sektor.
1. Harga barang impor berpotensi naik
Produk seperti elektronik, ponsel, laptop, obat-obatan, hingga suku cadang kendaraan bisa menjadi lebih mahal karena biaya impor meningkat saat dolar menguat.
2. Harga kebutuhan sehari-hari ikut terdorong
Beberapa bahan pangan seperti gandum, kedelai, dan gula masih bergantung pada impor. Kenaikan biaya impor dapat mendorong penyesuaian harga di tingkat konsumen.
3. Biaya energi dan BBM bisa terpengaruh
Minyak dunia diperdagangkan dalam dolar AS. Jika harga minyak naik bersamaan dengan penguatan dolar, beban impor energi dapat meningkat dan berdampak pada APBN maupun harga energi domestik.
4. Cicilan dalam dolar menjadi lebih mahal
Pihak yang memiliki utang dalam dolar harus mengeluarkan lebih banyak rupiah untuk membayar kewajiban tersebut ketika kurs menguat.
5. Biaya perjalanan dan pendidikan luar negeri naik
Tiket pesawat internasional, biaya kuliah, hingga belanja di platform global akan terasa lebih mahal saat dolar menguat terhadap rupiah.
6. Suku bunga bisa ikut terpengaruh
Untuk menjaga stabilitas rupiah, Bank Indonesia dapat mempertahankan atau menaikkan suku bunga. Dampaknya bisa terasa pada bunga kredit rumah, kendaraan, maupun pinjaman usaha.
Meski demikian, penguatan dolar AS tidak selalu berdampak negatif bagi semua pihak. Sejumlah sektor justru bisa diuntungkan.
Eksportir seperti sektor kelapa sawit, batu bara, perikanan, dan tekstil berpotensi memperoleh pendapatan lebih besar karena penerimaan dalam dolar meningkat saat dikonversi ke rupiah.
Selain itu, pekerja dengan gaji dalam dolar serta penerima remitansi dari luar negeri juga bisa merasakan keuntungan dari pelemahan rupiah.
Secara sederhana, jika kurs bergerak dari Rp16.000 menjadi Rp17.500 per dolar, barang seharga 100 dolar yang sebelumnya setara Rp1,6 juta akan naik menjadi Rp1,75 juta di Indonesia, meski harga global tidak berubah.
Yang menjadi perhatian utama bukan hanya kenaikan dolar itu sendiri, tetapi juga durasi penguatannya. Jika berlangsung lama, dampaknya dapat merambat ke inflasi dan tekanan daya beli masyarakat.
