Narasina.com - Nilai tukar rupiah diprediksi masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Jumat (22/5/2026). Tekanan dari sentimen global dan domestik dinilai masih membayangi pergerakan mata uang Garuda.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp17.660 hingga Rp17.710 per dolar Amerika Serikat.
“Mata uang rupiah (diprediksi) fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 17.660 - Rp 17.710,” kata Ibrahim, Jumat (22/5/2026).
Pada perdagangan Kamis (21/5/2026), rupiah ditutup melemah 13 poin ke level Rp17.667 per dolar AS. Sebelumnya, mata uang domestik sempat tertekan hingga 30 poin selama sesi perdagangan.
“Pada perdagangan Kamis (21/5) mata uang rupiah ditutup melemah 13 point sebelumnya sempat melemah 30 poin dilevel Rp 17.667 dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.653,” ujarnya.
Menurut Ibrahim, tekanan terhadap rupiah dipicu meningkatnya kehati-hatian investor setelah pemerintah memperketat aturan ekspor sejumlah komoditas utama. Kebijakan tersebut mewajibkan ekspor minyak sawit, batu bara, dan ferroalloy dilakukan melalui satu eksportir milik negara.
Kebijakan itu dinilai memunculkan kekhawatiran pasar terkait dampaknya terhadap arus perdagangan dan penerimaan devisa dalam jangka pendek. Akibatnya, investor mulai mengurangi eksposur pada aset berisiko termasuk mata uang negara berkembang.
“Investor menghindari risiko setelah Presiden Prabowo memperketat aturan ekspor komoditas utama, termasuk minyak sawit, batubara, dan ferroalloy, dengan mewajibkan pengiriman melalui satu eksportir milik negara,” ujarnya.
Pelaku pasar juga masih menunggu rilis data neraca transaksi berjalan kuartal I-2026 yang dijadwalkan diumumkan pada Jumat. Data tersebut menjadi perhatian karena Indonesia sebelumnya masih mencatat defisit pada kuartal IV-2025.
“Kehati-hatian juga meningkat menjelang data neraca transaksi berjalan kuartal pertama yang akan dirilis Jumat, menyusul defisit kuartal keempat yang didorong oleh kesenjangan harga minyak yang lebih lebar,” ujarnya.
Tingginya permintaan terhadap dolar AS membuat ruang penguatan rupiah menjadi terbatas. Kondisi itu terjadi meskipun Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate.
Menurut Ibrahim, keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga merupakan langkah terukur untuk menghadapi ketidakpastian global sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Kebijakan tersebut memang berpotensi menambah beban biaya pinjaman. Namun langkah itu diharapkan mampu menahan pelemahan rupiah agar tidak semakin dalam.
“Dengan menaiikan suku bunga acuan, Bank Indonesia ingin menyatakan bahwa posisi rupiah masih akandijaga, ekspektasi inflasi tidak akan dibiarkan liar, dan otoritas moneter belum kehilangan kendali,” pungkasnya.
